Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Kitab
Bad’i al-Khalq dalam sahihnya, beliau berkata
Ali menuturkan kepada kami, Sufyan menuturkan kepada kami dari al-A’masy
dari Abu Wa’il dia berkata;ada orang yang berkata kepada Usamah, “Seandainya
saja engkau mau mendatangi si fulan dan berbicara menasihatinya.” Maka
dia menjawab, “Apakah menurut kalian aku tidak berbicara dengannya melainkan
aku harus menceritakannya kepada kalian. Aku sudah menasihatinya secara rahasia.
Aku tidak ingin membuka pintu yang menjadikan aku sebagai orang pertama yang
membuka pintu fitnah itu -menasihati penguasa dengan terang-terangan-. Aku pun
tidak akan mengatakan kepada seseorang sebagai orang yang terbaik -walaupun dia
adalah pemimpinku- setelah aku mendengar sabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.” Mereka bertanya, “Apa yang kamu dengar dari
beliau itu?”. Dia menjawab; Aku mendengar beliau bersabda, “Akan
didatangkan seorang lelaki pada hari kiamat kemudian dia dilemparkan ke dalam
neraka dan terburailah isi perutnya di neraka sebagaimana seekor
keledai yang berputar mengelilingi penggilingan. Maka berkumpullah para
penduduk neraka di sekitarnya. Mereka bertanya, “Wahai fulan, apa yang terjadi
padamu, bukankah dahulu kamu memerintahkan yang ma’ruf kepada kami dan melarang
kami dari kemungkaran?”. Lelaki itu menjawab, “Dahulu aku memerintahkan
kalian mengerjakan yang ma’ruf sedangkan aku tidak melakukannya. Dan aku
melarang kalian dari kemungkaran namun aku justru melakukannya.” Hadits
ini diriwayatkan oleh Ghundar dari Syu’bah dari al-A’masy (HR. Bukhari [3027]
, disebutkan pula oleh Bukhari dalam Kitab al-Fitan [6569]
as-Syamilah).
Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Orang
alim adalah orang yang merasa takut kepada Ar Rahman walaupun dia tidak
menyaksikan-Nya, ia sangat menginginkan apa yang Allah iming-imingkan kepada
dirinya, dan ia bersikap zuhud terhadap sesuatu yang akan membuat murka Allah.” Ikrimah
meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma bahwa hakikat
orang yang benar-benar mengenal Ar Rahman (Allah) adalah : [1] orang yang tidak
mempersekutukan apapun dengan Allah, [2] menghalalkan sesuatu yang
dihalalkan-Nya, [3] mengharamkan sesuatu yang diharamkan-Nya, [4] senantiasa
menjaga pesan/wasiat-Nya, dan [5] meyakini dirinya pasti akan berjumpa
dengan-Nya serta amalnya akan dihisab (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim,
6/349).
Sufyan Ats Tsauri menukil dari Abu Hayyan At Tamimi ucapan seorang
lelaki, “Dahulu dikatakan bahwa ulama itu ada tiga macam; [1] Orang
yang alim terhadap Allah dan alim tentang aturan Allah, [2] Orang yang alim
tentang Allah namun tidak alim tentang aturan Allah, [3] Orang yang alim
tentang aturan Allah namun tidak alim terhadap Allah. Orang yang alim terhadap
Allah dan alim tentang aturan Allah adalah orang yang takut kepada Allah serta
mengetahui batasan-batasan dan kewajiban-kewajiban. Sedangkan Orang yang alim
tentang Allah namun tidak alim tentang aturan Allah adalah orang yang takut
kepada Allah namun tidak mengerti seluk beluk batasan-batasan dan
kewajiban-kewajiban. Adapun Orang yang alim tentang aturan Allah namun tidak
alim terhadap Allah adalah orang yang mengerti seluk beluk batasan-batasan dan
kewajiban-kewajiban namun tidak merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla.” (Tafsir
Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/350).
Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah mengatakan, “Amal
adalah buah dari ilmu. Ilmu itu ada dalam rangka mencapai sesuatu yang
lainnya. Ilmu diibaratkan seperti sebuah pohon, sedangkan amalan adalah seperti
buahnya. Maka setelah mengetahui ajaran agama Islam seseorang harus
menyertainya dengan amalan. Sebab orang yang berilmu akan tetapi tidak
beramal dengannya lebih jelek keadaannya daripada orang bodoh. Di dalam
hadits disebutkan, “Orang yang paling keras siksanya adalah seorang
berilmu dan tidak diberi manfaat oleh Allah dengan sebab ilmunya”. Orang
semacam inilah yang termasuk satu di antara tiga orang yang dijadikan sebagai
bahan bakar pertama-tama nyala api neraka. Di dalam sebuah sya’ir dikatakan,
Orang alim yang tidak mau
Mengamalkan ilmunya
Mereka akan disiksa sebelum
Disiksanya para penyembah berhala
(Hasyiyah Tsalatsatul Ushul, hal. 12)
Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata, “Hendaknya
diingat bahwa seseorang yang tidak beramal dengan ilmunya maka ilmunya
itu kelak akan menjadi bukti yang menjatuhkannya. Hal ini sebagaimana
terdapat dalam hadits Abu Barzah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Kedua telapak kaki seorang
hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia akan ditanya tentang
empat perkara, diantaranya adalah tentang ilmunya, apa yang sudah di amalkannya” (HR. Tirmidzi 2341). Hal ini bukan berlaku bagi
para ulama saja, sebagaimana anggapan sebagian orang. Akan tetapi semua orang
yang mengetahui suatu perkara agama maka itu berarti telah tegak padanya
hujjah. Apabila seseorang memperoleh suatu pelajaran dari sebuah pengajian atau
khutbah Jum’at yang di dalamnya dia mendapatkan peringatan dari suatu
kemaksiatan yang dikerjakannya sehingga dia pun mengetahui bahwa kemaksiatan
yang dilakukannya itu adalah haram maka ini juga ilmu. Sehingga hujjah juga
sudah tegak dengan apa yang didengarnya tersebut. Dan terdapat hadits yang sah
dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Al Qur’an itu adalah hujjah bagimu atau hujjah
untuk menjatuhkan dirimu” (HR. Muslim)” (Hushulul Ma’mul,
hal. 18)
Allahumma na’udzu bika min ‘ilmin laa
yanfa’
Sumber: muslim

Tidak ada komentar: